Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji, Just Another ‘Gagap’ Policy dari Pemerintah….

Agustus lalu, Pemerintah melalui Menteri Negara Sumber Daya Energi Mr. Purnomo Yusgiantoro (Ah….koq lagi-lagi dia ya….?!) mengeluarkan sebuah kebijakan penuh kontroversi dan mengundang berbagai polemik di media masa, yakni konversi minyak tanah ke gas Elpiji….Kebijakan ini diyakini oleh Bapak Mentri akan menghemat anggaran subsidi pemerintah sampai 40 triliyun rupiah…..sebuah angka fantastik and sedikit bombastik dan moga-moga bukan dilebih-lebihkan guna legalisasi program ‘pemiskinan’ baru itu…..(yang kayaknya langsung direspon Mbak Mega dengan jargon SBY gagal mengentaskan kemiskinan rakyat hingga Beliau berniat menolong rakyat melalui kesediaannya diclonkan kembali sebagai capres pada Pilpres 2009…..duuuh cepetnya……)

Pada dasarnya program ini bertujuan untuk mengganti penggunaan kompor minyak tanah dari masyarakat, yang dianggap sebagai salah satu sumber pemborosan anggaran negara, menjadi penggunaan kompor gas elpiji yang lebih murah. Lebih lanjut dikatakan bahwa penggunaan minyak tanah 1 liter sama dengan 0,4 kg gas elpiji. Hingga dengan 3 kg gas elpiji seharga Rp 12.750 akan setara dengan minyak tanah 7 liter seharga Rp 17.500. So dengan penggunaan 3 kg gas elpiji maka rakyat diharapkan akan menghemat lebih kurang Rp 4.750….!! Sebuah angka yang fantastik….!! Dan sebagai gebrakan awal nan syarat nuansa politis dan kental dengan sebuah kegiatan proyek (yang harusnya cepat diaudit biar gak terjadi seperti biasanya……), Pemerintah membagi-bagikan secara gratis kompor gas plus tabungnya yang 3 kg-an itu kepada masyarakat, dimulai dari masyarakat Jabodetabek. Bagus bukan….?! Teorinya sich bagitu…..kasunyatannya bagaimana…..?!

Kalau menurut aku sich program ini terlalu ngekonomi….kesannya hanya pengen menghemat anggaran subsidi minyak tanah saja….untuk dana bos lah……untuk dana kesehatan lah….untuk dana kesejahteraan masyarakat lah….. sebuah teori yang bagus dan jelas-jelas ngadaptasi dari negara-negara sono tu…..tapi implementasinya masih penuh dengan kelemahan alias banyak penyelewengan disana-sini….

1.Sebagai contoh masih banyaknya dana bos or dana pendidikan yang mubadzir akibat belum siapnya dinas pendidikan dalam program dan proyek yang ‘good‘ akibat gak bisa mengelola keuangan yang tiba-tiba begitu besar….so….seperti biasa dinas pendidikan kini tak ubahnya sarang korupsi baru yang perlu diawasi dengan ketat……

2.Contoh kedua, adalah dana kesehatan yang nyata-nyatanya hanya menjadi ladang bancakan baru bagi para mafia kesehatan. Bukti sahihnya adalah masih ditolaknya pasien-pasien miskin di beberapa rumah sakit di Jakarta walau menurut Mr. Governur rumah sakit-rumah sakit itu setiap tahunnya telah menerima sekian milyar guna keperluan itu. Lak aneh to….njur duite nggo subsidi kesehatan itu dinggo ngopo…..

3.Terakhir untuk dana kesejahteraan masyarakat yang dibagi-bagikan tiap tiga bulan sekali, jelas menimbulkan gegeran dari wong cilik sing tiba-tiba royokan duit yang disebar-sebar iku…. Belum kasus dana yang tidak tepat sasaran…karena banyaknya orang yang ngaku-ngaku sebagai orang miskin walau rumahnya sudah gedong…..

Dari uraian itu, hanya satu komentar yang perlu kita renungkan….njur dana hasil penghematan subsidi minyak tanah itu mau dikemanakan lagi Pak…….?! Arep nggo ladang bancakan baru…..?!

Itu baru dari segi penyaluran hasil penghematan subsidi…..sedangkan dari segi sosial budaya masyarakat….ada banyak problem yang harus dijawab oleh pemerintah…..

a. Lancarnya distribusi gas elpiji
Ini yang menjadi kekhawatiran saya yang utama….Apakah pemerintah sudah siap mendistribusikan tabung gas elpiji sampai semudah distribusi minyak tanah…..?! Saya kira tidak….!! Kalau distribusi minyak tanah saja, yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, saat ini sudah mengalami gangguan apalagi dengan gas elpiji yang baru coba-coba….. Distributor tiap kota saja belum tentu ada….belum lagi distributor tingkat kecamatan….tingkat desa……tingkat eceran….. Banyak distributor yang harus disiapkan pemerintah jika pengen program itu beralan dengan lancar…..dan apakah itu telah disiapkan dengan baik…..?! Jawabnya pastilah BELUM….!! So….kalau pasokan minyak tanahnya sudah mulai dikurangi sementara gas elpiji belum ada…..apa gak nambah sengsorone rakyat wae…….

b. Harga Elpiji apa memang akan semurah itu….?!
Jawabannya jelas tidak…..!! Sebaai contoh, untuk minyak tanah saja yang dipatok seharga Rp 2.500 bisa sampai 3000 perak ditangan konsumen….itu dalam kondisi normal……Jika minyak tanah sedikit saja ‘disimpan’ hingga terjadi kelangkaan minyak maka harganya bisa mencapai 4500 sampai 5000 perak bahkan pernah dalam kondisi ekstrim sampai 10.000 perak….bayangkan….jika hal itu terjadi pada gas elpiji….Kalau harga yang dipatok pemerintah saja Rp 12.750 per 3 kg….maka kira-kira dalam kondisi normal harganya berapa sampai di konsumen…..belum kalau saat semua masyarakat pake gas elpiji….eee…..barangnya langka….so berapa harganya kira-kira…..dan yang jelas masyarakat apa akan mampu beli…..?! Dan kalau benar-benar elpiji ilang di pasaran…..masyarakat mau masak pakek apa…?! pakek kayu lagi kaya jaman dulu….?! Itu khan di desa….kalau di kota….?! masak pakek apa….?!

c. Mau dikemanakan para distributor minyak tanah
Ya….dengan pergantian minyak tanah ke gas elpiji…..mau dikemanain para distributor minyak tanah yang selama ini melayani masyarakat…..?! Apakah para distributor minyak tanah itulah yang akan difungsikan sebagai distributor gas elpiji….?! Apa bukan orang lain….?! Sebab jika orang lain maka pemerintah akan menghilangkan mata pencaharian sekian ratus ribu orang…..Atau malah belum kepikiran ya…..?! He….he…he…kayaknya yang terakhir ini yang bener…..

d. Habit pemakaian minyak tanah
Moga-moga saja masyarakat bisa cepat mengubah kebiasaan memakai kompor minyak menjadi kompor gas……Dan itu tidak hanya sekedar teknis pengoperasian saja…..karena mengubah sikap itu butuh sebuah proses yang memakan waktu…..gak bisa instan….gak bisa dipaksakan…..lebih baik masyarakat diberi pilihan…….dan sekali lagi itu harus dimulai dari penyediaan gas elpiji yang semudah ditemui like minyak tanah…..dari situ pemerintah bisa mengharapkan sebuah perubahan sikap…..

Itu beberapa PR yang harus dikerjakan Pemerintah jika ingin program konversi minyak tanah ke gas berhasil….kalau tidak, program ini hanyalah salah satu dari beberapa program pemerintah yang gagap dan hanya berujung satu…..kegagalan……kesengsaraan……pertumbuhan angka kemiskinan…….

6 Tanggapan ke “Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji, Just Another ‘Gagap’ Policy dari Pemerintah….”

  1. macanang Berkata:

    Memang program yang nggak mudah mas, mengubah kebiasaan energi sepertinya butuh proses yang lama..

  2. sarangenge Berkata:

    hmm di medang lestari-legok-kab.tangerang untuk dapatkan konfensassi kompor gas gratis di pungli 8 ribu s/d 20 ribu perak .kasian rakyat kecil….menjeriiiit tak bisaaa…

  3. rea Berkata:

    menurut saya konversi gas perlu dikaji ulang, kita perlu mempertanyakannya kembali apakah efektif kebijakan tersebut???????????pemerintah selalu memberikan kebijakan yang monoton dan jalan ditempat, tahu sendiri pemerintah kita selalu “hangat-hangat tahi ayam”kebijakan ini akan berdampak secara makro…..

  4. medina Berkata:

    menurut saya itu kebijakan yang baik,,karna minyak tanah itu adalah SD yang tdk dapat diperbaharui,,namun,,semua pihak harus 100% mendukung tanpa ada satupun yang “melenceng”

  5. windi Berkata:

    Ehmmm,,,pada dasarnya mungkin memang baik (pada dasarnya) namun mungkin secara implementasi masih banyak hal perlu diperhatikan, yah supaya niat baiknya pemerintah, disalah artikan oleh banyak orang. Artinya jika memang pemerintah membuat suatu kebijakan, harus benar-benar diperhatikan kesiapan berbagai pihak dalam menerima kebijakan tersebut.

  6. Yudan Berkata:

    Bgs lah…
    Soalnya-kan SDA minyak sangat terbatas skali…
    Tp ada beberapa hal yang sangat fundamental :
    1. Distribusi kompor dan minyak harus bisa lancar
    2. Dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat ttg alasan penggantian tsb
    3. No corruption dari dana penggantian tersebut
    4. Smangattt… smoga berhasil ya…

Tinggalkan Balasan