Perlukah Kita Berpaling Pada Soeharto ?

Mengenang Supersemar

Saya kira topik itu perlu kita renungkan dan mungkin kita kemukakan lagi, kalau perlu diseminarkan juga boleh, mumpung 11 Maret (yang sering dianggap hari kelahiran Soeharto) baru kemaren. Disamping mengingat kondisi negara kita yang semakin kacau. Disamping bencana alam dimana-mana, juga terjadi lomba ketidakprofesionalan antar personil pemerintah hingga menyebabkan banyaknya kecelakaan pesawat, kapal laut, kereta api, juga lumpur Lapindo yang gak jelas kapan tuntasnya. Dari ilustrasi itu kadang aku sempat membandingkan dengan keadaan yang nyaman di jaman Soeharto, dimana bahan makanan pokok begitu murah, transportasi juga murah, bensin murah, listrik murah, sekolah murah, kesehatan juga murah….walau gaji kecil tapi kalau apa-apa murah kayaknya enak juga. Bukan begitu ?!

Dan kayaknya pikiran saya itu juga mulai banyak difikirkan oleh temen-temen saya yang mulai muak dengan Orde Reformasi hingga sering kepeleset sebut jadi Orde Repot Nasi….Bahkan beberapa temen saya pernah nantang saya untuk bertanya pada rakyat kecil…”Enak mana jaman sekarang dengan Jaman Pak Harto ?!”
Dengan bangga, seakan-akan mewakili jutaan rakyat kecil di Indonesia dia akan menjawab sendiri pertanyaannya itu….
”pasti mereka akan menjawab, enak jaman Pak Harto. Apa lagi kalo pertanyaan itu ditanyakan sama petani… ”
”Trus Bagaimana dengan korupsinya ? Kata para pengamat miskinnya Indonesia itu karena hutang warisan orde baru…” begitu selalu saya coba mendebat.
”Itu pengamat awal milenium dulu… Sekarang sudah ada data bahwa ternyata ibarat 32 tahun dijajah Soeharto… dijajah rezim orde reformasi, kurang dari 9 tahun, jumlah korupsinya sudah melebihi korupsinya Pak Harto. Tahu nggak sebabnya ?! Kalo dulu jaman Soeharto…yang korupsi cuman Wak Harto. Sekarang ?! semuanya rame-rame korupsi !!” sinis banget jawabannya.

Dari situ saya kemudian bingung. Apa emang kita perlu kembali ke Soeharto ?! Soalnya para pemimpin orde reformasi kayaknya kagak ada yang sekarismatik HMS. Presiden yang ilmuwan sudah, yang kyai sudah, yang amanat rakyat sudah juga…bernostalgia dengan Persiden yang tentara juga sudah. Hasilnya…. ?! Sama saja !! Kehidupan masih tetep kacau, kemiskinan masih meningkat, harga-harga sembako makin melangit, sedang korupsi masih merajalela dimana-mana…. Jadi gimana ini ?! Apa kita kembali memohon-mohon pada Pak harto untuk jadi Presiden lagi ?! Kita minta Moerdiono untuk mengkoordinasikan jalannya birokrasi pemerintahan ?! Atau mungkin kita minta turun gunung Bang Moko buat mimpin parlemen kita ?! Ah….!!

Terus terang saya akan ngomong tidak setuju pertama kali… !! Itu hal yang paling tidak masuk akal yang dilakukan orang-orang di negeri ini. Bagaimana tidak… ?! Masa kita serahkan nasib negara pada orang-orang yang pikun ?! Gus Dur saja yang matanya ’blawur’ nggak boleh nglamar jadi Presiden…pa lagi pikun ?!

”Hey…hey….Pak Harto itu masih sehat…belum pikun man…”begitu sering kudengar dari mulut orang-orang pendukung faham ’back to Orba’ Ah yang bener saja man….sak sehat-sehatnya orang kalau umurnya sudah diatas 80 tahun ya…minimal sudah loyo…alias kakek-kakek….. Naaa….pendapat itu mulai tidak rasional…alias emosional…. alias gak logis, gak objektif, gak ilmiah, dan penganut paham pokoke……

Oke-oke….kuakui aku sedikit emosional dalam hal ini….walupun emosi itu tetap kukeluarkan dari hati dengan lambaran nurani. Tapi kalo sampeyan pengen yang sedikit rasional, begini argumenku…. Aku yakin sebagian besar pemimpin yang sedang menjabat or berjaya di negeri ini besar pada jaman Soeharto. Mulai Presiden, Mentri, Para Pejabat Tinggi Negara lain, Gubernur, Bupati, juga DPR, DPRD…pasti besar pada jaman HMS. Mereka semua, baik yang saat itu kebagian maupun tidak, pasti melihat bahwa KKN itu menyenangkan. Minimal mengamati bahwa korupsi itu mendatangkan kemewahan. Mendengar bahwa hukum itu bisa dibeli. Membaca bahwa kekuasaan itu segalanya. Dengan demikian pada saat orde baru mereka telah mendapat contoh bagaimana menjalankan sistem yang korup itu, sekaligus belajar menjalankannya. Dengan kata lain merekalah pewaris-pewaris sistem korupsi Soeharto. Pada saat reformasi mereka telah belajar dari para pendahulunya bagaimana menyelamatkan diri pada kondisi sulit. Termasuk belajar dari Harmoko, yang mengkhianati ’orang yang selalu memberi petunjuk’, agar aman dari hujatan….Atau seperti Murdiono yang diam-diam menghilang tanpa ada yang mengungkit-ungkit kesalahannya…

Benar Soeharto memang melakukan korupsi lebih sedikit dari para koruptor reformasi…..tapi Soeharto lah pencipta sistem korupsi di Indonesia….Soeharto lah yang menyebarkan budaya korupsi di kalangan birokrasi….Soeharto lah contoh bagi perusahaan-perusahaan swasta Indonesia yang manja, suka ngemplang pajak, suka hutang melebihi aset……Soeharto lah penyedia benih kesewenang-wenangan pemimpin negeri…..kalo Soekarno-Hatta merupakan ’founding father this country ’ maka Soeharto lah ’founding father’ sikap-sikap korupsi Bangsa Indonesia….!! Bagaimana ?! Masih mau kembali pada Soeharto….??

Sekarang tinggal tertinggal satu pertanyaan. Kapan Indonesia terbebas dari sistem yang korup itu ?! Ya…mungkin kalo para pewaris budaya Soeharto itu sudah diganti dengan generasi reformasi….Lha kapan itu ? Ya…kalo para pewaris budaya Soeharto itu sudah mati. Wong ..orang seneng duit itu gak pernah ada pensiunnya kecuali dipensiun sama ’Yang Kuasa’…. Waduh….berarti menanti mereka semua mati ya….?! Bukan hanya itu tetapi menanti sampai mereka gak punya murid lagi…wong namanya budaya khan pasti diwariskan turun temurun…..lho lantas kapan Indonesia bebas korupsi ? Sampai disini aku bingung sendiri mencari jawabannya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: