Sepanjang Jalan Semarang-Kudus Riwayatmu Dulu….

Pernahkah Anda pergi ke Kota Kudus….?! Sebuah Kota Kabupaten di sebelah timur Semarang dan Demak yang baru-baru ini digegerkan dengan perkawinan heboh salah seorang pengusahanya yang menikahi seorang penyanyi populer, Cici Paramida…. dan ternyata dibelakangnya banyak menyimpan masalah, terutama dari ’istri’ dan mantan istri-istrinya yang belakangan minta pertanggungjawaban atas anak-anak yang telah mereka lahirkan….dan tentu saja hal itu segera menjadi santapan segenap media di Indonesia serta merta membuat Kudus menjadi terkenal….walau belakangan tuntutan para istri itu meredam dengan sendirinya…termasuk juga suara media yang pelan-pelan lerem…entah karena sudah bosen atau punya objek berita lain atau karena memang bener-bener diredam oleh sang pengusaha kaya raya…..

Diluar cerita miring itu, Kota Kudus sendiri dari dulu terkenal sebagai sebuah daerah yang kaya raya…..utamanya karena kehadiran pabrik Rokok Djarum Kudus yang mengklaim dirinya yang terbesar di Indonesia atau bahkan Asia (?) …hingga bisa menghidupi Kudus menjadi daerah makmur. Lebih daripada itu, masyarakat Kudus juga terkena imbasnya hingga ikut-ikutan makmur juga….atau minimal mereka bukan pengangguran dengan salah satu indikasinya adalah langkanya pengamen jalanan di Kota Kudus….menunnjukkan bukti bahwa ada banyak pekerjaan yang bisa dipilih buat mendapatkan duit daripada sekedar ngamen. Bahkan saya sendiri yang kebetulan sering masuk ke kawasan Gebog, pedalaman di Kudus utara, banyak terlihat pabrik-pabrik dengan buruh-buruh hilir mudik rame sekali…belum lagi jika berkunjung ke kawasan Muria yang penuh dengan kendaraan bermotor hingga tak mengesankan kalau dua daerah itu masih merupakan kawasan pedesaan yang penuh dengan pohon-pohon rindang….. Jadi jangan tunggu lagi, silakan berkunjung ke Kota Kudus nan makmur….

3030700p

Tapi posting kali ini sebenarnya tidak hendak menceritakan Kota Kudus secara khusus, melainkan hendak menceritakan perjalanan sungai yang akan Anda nikmati jika hendak pergi ke Kudus lewat Semarang….Saya katakan perjalanan sungai karena memang sepanjang jalan Semarang-Kudus kita tidak akan pernah lepas dari pandangan sungai-sungai kecil yang terhampar di sepanjang tepi jalan….khususnya jika kita layangkan pandangan ke sebelah utara jalan. Pemandangan sungai yang sangat khas karena disana kita akan melihat pula kegiatan-kegiatan khas sungai-sungai tempo dulu…dimana sepanjang sungai terlihat beberapa bocah kecil dan juga pria serta wanita (sayangnya kebanyakan tua-tua) sedang mandi, mencuci atau sekedar menjaring ikan…seolah-olah mengingatkan bahwa sungai-sungai itu pernah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di sekitarnya (atau sampai sekarang masih….?!).

Yang paling bikin kagum adalah kenyataan bahwa sungai-sungai itu hampir tidak pernah putus kita lihat sepanjang jalan…..walau ukurannya tidak selalu sama…ada yang besar, bahkan besar sekali dan kadang hingga memotong jalan….tetapi ada yang kecil, bahkan kecil sekali hingga kita tidak melihat sambungannya hingga mirip banget dengan sebuah empang, parit atau sekedar genangan air saja….lalu di beberapa tempat sungai-sungai itu bercabang-cabang menuju ke utara tempat laut sebagai muara berada…Hanya saja, kadang kita dibikin prihatin dengan kondisi di sebagian besar sungai yang tidak terawat…. masih asli alias tepiannya masih berupa tanah bergelombang dan tidak terlihat pondasi batu-batu di pinggir kali. Air sungai pun kelihatan kotor, berwarna coklat serta penuh dengan sampah-sampah yang mengapung. Bahkan pada beberapa bagian penuh ditumbuhi tanaman eceng gondok hingga air sungai pun nyaris gak kelihatan. Dan yang tambah bikin prihatin adalah dengan kenyataan seperti itu, saya melihat kegiatan sungai masih dilakukan seperti biasa tanpa merasa risi….Dan dari beberapa orang yang saya kenal menyatakan bahwa kegiatan sungai (mck and dll) sudah menjadi kebudayaan masyarakat di sekitar sungai di sepanjang Semarang-Kudus….Artinya, jika kita introduksi mereka dengan sesuatu yang lebih sehat seperti sumur dan kamar mandi….biasanya hanya berlaku sebentar, untuk kemudian mereka akan kembali kepada kegiatan sungai semula….

Sambil naik bus jurusan Semarang-Solo saya tiba-tiba bisa membayangkan kegiatan sungai diwaktu dulu….saat sungai-sungai tersebut mencapai jaman kejayaan karena airnya yang begitu jernih hingga sungai-sungai itu dipenuhi dengan gelak tawa anak perawan yang sedang bersenda sambil mandi sembari mencuci di tepi sungai….Dan tiba-tiba saja, diri saya menjelma menjadi seorang pangeran tampan dengan kumis tipis sedang naik kereta kuda sambil tersenyum-senyum melihat kegiatan perawan-perawan yang sedang mandi-mandi di sungai…..Tersenyum karena sesekali mendengar ejek manja para gadis yang mencoba menggoda sang pangeran tampan….Sesekali jakun sang pangeran otomatis naik turun melihat pemandangan indah di hamparan sungai….karena tak sengaja melihat paha mulus sang gadis yang mengintip di sela-sela beningnya air sungai…. sementara kemben yang dikenakan para gadis tak sanggup menutupi seluruh buah dada ranum para gadis yang bergoyang karena gelombang air sungai….hmmm….sebuah pemandangan indah yang begitu dirindukan banyak orang….

Tapi goncangan bus yang melewati jalan bergelombang membuyarkan diriku dari segala lamunan….Ya….saya ternyata bukanlah seorang pangeran tampan yang sedang naik kereta kuda….dan sungai-sungai bening yang saya lihat berubah kembali menjadi sungai kotor berwarna coklat….sementara para gadis cantik itu kembali ke sosok-sosok ibu-ibu berkulit gelap beserta anak-anaknya yang sedang mencuci di pinggir sungai coklat…. Sementara pemandangan asri yang terbayang berubah menjadi pemandangan kampung-kampung kumuh serta gersang….Ya….disamping pemandangan sungai di sepanjang Semarang-Kudus, kita juga akan menyaksikan deretan rumah-rumah kuno yang terlihat hampir rubuh disebagian besar tempat….Sebuah panorama sungai nan asri di tempo dulu yang berubah menjadi pemandangan sungai kumuh nan memprihatinkan…..Ya….sungai itu seolah-olah memberi peringatan bagi manusia bahwa jika kamu tidak mengurusi saya dengan baik maka akupun tak mau mengurusi dirimu….hingga kita akan terlihat sama-sama tidak terurus….

Pemandangan sungai sepanjang Semarang-Kudus seolah-olah membuktikan kita suatu hal bahwa apabila kita tidak mampu melestarikan alam dengan baik maka alam yang dulu menjadi sahabat manusia akan berubah menjadi musuh manusia…..seperti halnya sungai-sungai disepanjang Semarang-Kudus yang kini tak lebih sebagai sarang penyakit serta di musim hujan menjadi sumber penyebab banjir yang menggerus jalan-jalan raya di sepanajang Semarang-Kudus yang terlihat bergelombang walau tiap tahun selalau mengalami renovasi….sesuatu yang bikin pengembara seperti aku jengkel akibat perjalanan macet yang tak berkesudahan….

batang2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: