Beberapa PR Dunia Pertenisan (Olah Raga) Nasional

Sore itu rasanya capek banget saat mau pulang ke Semarang setelah kerja seharian di Kota Blora….yang meski cukup menyenangkan karena emang lama banget gak kesana hingga menimbulkan sensasi tersendiri…..tapi kenyataan bahwa Kota yang berjarak 3,5 jam dari Semarang itu berudara cukup panas hingga suhu ruangan ber-AC pun masih terasa panas….bahkan sempet membuat tanganku gatel-gatel akibat udara panas yang menimbulkan keringat kotor pada tubuhku. Sempet berdo’a agar penumpang di travel yang hendak mengantarku ke Semarang cukup longgar (atau malah kosong seperti saat perjalanan keberangatanku ke Blora hari kemarennya) hingga masih banyak ruang yang bisa membuatku ‘mati suri’ selama perjalananku ke Semarang…..tapi apa hendak dikata, travel itu kemudian menyambangi sebuah jalan kecil and menaikkan seorang anak muda untuk duduk disampingku….walau masih lumayan longgar lah soalnya tempat duduk bertiga hanya kita tempati berdua….

Iseng-iseng kusapa and kutanya si pembalap (pemuda berbadan gelap) yang kelihatannya mahasiswa itu….
“Ke Semarang hendak kuliah Dek….”
”Ah…enggak koq Pak…..Saya mau pulang ke Semarang….habis melatih tenis di Blora….”
Melatih Tenis….?! Jauh-jauh dari Semarang ke Blora hanya untuk melatih tenis….?! Emang di Blora tidak ada pelatih tenis apa….?! Dari sini aku mulai tertarik dengan profesinya hingga kukorek-korek pekerjaannya itu…dan ternyata dia mengaku merupakan mantan petenis nasional yang bahkan saat ini masih menduduki ranking 48….sebuah kenyataan yang membuat segala rasa capekku kemudian menghilang dihantam berbagai rasa penasaran…utamanya terkait dengan prestasi pertenisan nasional yang kayaknya gak maju-maju…walau sebenarnya tenis merupakan suatu cabang olah raga yang banyak peminatnya….terbukti banyaknya klub tenis and lapangan tenis…walau saya sendiri melihatnya sebagai cabang olah raga yang seringkali dipakai sebagai ajang rekreasi and lobying daripada unsur prestasinya….Mainnya sih seru, tapi kayaknya dari segi speed and power yang sering ditunjukkan para petenis dunia luar negeri….permainan pemain kita gak lebih daripada ming ’kluthak-kluthik’ atau ’ketopal-ketapil’ gak jelas hingga prestasi pertenisan nasional dari dulu ya begita begitu saja atau kalau tidak bisa dikatakan malah mengalami kemunduran dari segi prestasi….Dan obrolan kami selanjutnya secara tidak langsung dapat mengidentifikasi beberapa kelemahan dunia pertenisan nasional yang perlu digarap oleh para pengurus PELTI agar tenis bisa menjadi olah raga prestasi seperti jamannya Yayuk Basuki-Suharyadi…

1. Bagus di Junior Melempem di Senior
“Saya dulu termasuk petenis berprestasi saat junior Pak…. saya angkatannya Prima Simpati Aji, yang semasa juniornya peringkat nasionalnya masih tinggian saya….” pemuda itu mencoba menjelaskan prestasinya sambil pandangannya kelihatan menerawang ke masa lalu…
”Lho lalu kenapa sekarang malah si Prima yang lebih terkenal di Indonesia….?!”
”Saya nggak tahu Pak…Saya sudah main tenis sejak usia 4 tahun karena dilatih ayah saya yang kebetulan seorang pelatih tenis….tapi emang kayaknya di Indonesia itu ya seperti itu. Banyak petenis yang berprestasi di saat juniornya sementara saat senior …..”
(Saya hanya manggut-manggut saja saat mendengarkan penjelasannya…sembari pikiran saya teringat pada seorang Angelique Wijaya yang begitu digadang-gadang sebagai pengganti Yayuk Basuki…yang ternyata layu sebelum berkembang akibat cedera yang berkepanjangan…Belum lagi seorang Beni Wijaya yang juniornya sempet menduduki ranking 3 dunia…untuk kemudian hilang saat senior….Juga seorang Adrian Raturandang yang saya pandang memiliki pukulan terkeras diantara para petenis nasional…walau akhirnya prestasinya semasa senior pun gak pernah bisa melebihi si flamboyan Feby Widiyanto yang ulet….)
”Lalu kenapa prestasi Anda koq turun saat senior….”
”Wah saya juga gak tahu Pak….” pemuda itu kelihatannya juga kebingungan dengan prestasinya semasa senior…seolah menyesali juga dengan kenyataan yang terjadi. Mungkin itu PR tidak hanya bagi cabang pertenisan tetapi juga banyak di cabang lain semacam sepakbola, tinju, bulutangkis, tenis meja, catur…. yang saya lihat hanya banyak atlet yang cepat berpuas diri dengan prestasinya di masa junior…atau hanya sampek kawasan ASEAN or max ASIA saja….

2. Tenis Belum Merupakan Olah Raga Yang Menjanjikan
”Saat ini saya tenis hanya buat menjaga peringkat nasional saja… paling kalau ada PORDA seperti kemaren saya sempat dikontrak sama Pemda Kalimantan atau Pemda Batang…lumayan duitnya daripada di Semarang gak dipakek. Tapi saya masih sesekali ikut turnamen….ya itu tadi buat menjaga peringkat nasional saya…khan kalau petenis yang punya peringkat khan gak perlu biaya mendaftar and langsung masuk babak utama….dan kalau sudah sampek babak 2 saja, duitnya sudah bisa buat ganti ongkos transport dan akomodasi. Tapi yang lebih penting dari itu adalah buat nyari relasi bisnis Pak….. siapa tahu di turnamen-turnamen itu ada yang butuh peralatan, raket, sepatu atau baju…nanti saya yang masok. Banyak petenis kita yang sekalian bisnis….Suwandi bahkan sekarang kaya karena punya 5 SPBU di Bandung….juga Peter Handoyo…atau Feby yang dipek mantu orang kejaksaan dan sekarang diserahi bisnis properti….Atau Prima yang sekarang jadi PNS Dinas Pariwisata Tegal….”
(ternyata begitu.Tenis belum dapat menghidupi atletnya….hingga terpaksa banyak atlet tenis yang harus mobat mabit buat ngurusi masa depannya pasca pensiun dari tenis…. susah juga, disatu sisi petenis harus ngurusi prestasinya…disisi lain mereka harus juga ngurusi masa depannya yang ga jelas….)

3. Salah Metode Latihan…?!
” Koq petenis kita gak ada yang mainnya seperti wong barat sana ya….
”Wah susah Mas…wong petenis barat sana rata-rata disiplinnya tinggi….sebelum main atau berlatih orang sana bisanya lari-lari dulu buat meningkatkan fisik dan stamina. Kalau petenis kita…saat mulai berlatih, banyak petenis yang masih suka ngobrol dulu…nongkrong dulu sebelum berlatih…atau kadang masuk lapangan masih pakek sandal jepit. Belum lagi petenis kita rata-rata males kalau disuruh lari-lari buat meningkatkan fisik…maunya latihan ya langsung latih tanding gitu….”

4. Sportivitas Hancur Karena (Kurang) Duit….
”Suwandi itu mainnya terlalu lembek. Pukulannya gak ada powernya. Tapi koq bisa dia jadi petenis nomor 1 Indonesia ya….?!”
”Suwandi itu penempatan bolanya yang bagus Pak…ke pojok-pojok lapangan. Tapi yang penting adalah mentalnya yang bagus Pak…Tenang saat bermain. Itu yang sulit dimiliki oleh petenis lain. Mental petenis kita sih kebanyakan rusak karena bisa dibeli…. Soalnya kalau punya duit kita bisa menang….Jadi kalau kita pengen menang cukupkasih 5 juta pada lawan dan bilang saya pengen menang pada pertandingan besok ya…..”
Sebenarnya saya sudah mengendus adanya praktek-praktek kotor di dunia olah raga kita….bahkan juga dunia. Tapi pengakuan dari seorang mantan petenis nasional itu tetap saja mengejutan bagi saya…

5. Mentalnya Pemainnya Kurang Kuat
”Siapa idolamu di dunia Tenis Mas…”
“Waduh ngga ada Pak….Semua petenis luar negeri itu mainnya bagus-bagus. Soalnya saya ini disamping pengamat juga pemain Pak…jadi tahu sulitnya memukul bola (yang full power dan berteknik tinggi) seperti mereka….”
(Hmm….idola saja sampai tidak punya karena belum-belum petenis kita sudah minder dengan kemampuan mereka. Jadi jangan harap kita bisa melihat seorang petenis kita yang berrestasi di tingkat dunia…karena mental-mental mereka yang minderan sekaligus tidak punya tujuan buat meningkatkan prestasi ke jenjang yang lebih tinggi.Mungkin itulah salah satu alasan sang legenda Yayuk Basuki yang come back ke dunia tenis bahkan dengan target masuk 50 besar dunia walau hanya di sektor ganda….mungkin karena gemes melihat mental petenis jaman sekarang yang mentalnya ‘pitik kate wanine nang omahe dewe….’)

6. Frustasi di Putra…Lemot di Putri…?!
“Kalau saya lihat, sebenarnya peluang lebih besar di sektor putri ya….minimal di tingkat Asia kita bisa berprestasi maksimal seperti diperlihatkan para petenis putri China…. soalnya budaya Asia khan masih mengagung-agungkan kecantian wanitanya….hingga seorang wanita yang bertubuh kekar dianggap jelek dan susah nikahnya…..Belum lagi anak-anak putri kita sudah terkagum-kagum dengan artis or penyanyi yang cantik-cantik itu….hingga pengennya seperti mereka daripada jadi atlet….”
Pemuda itu kelihatan mengangguk-angguk tanda setuju walau kemudian menambahan….
“Betul….tapi duitnya di tenis wanita juga kurang…sponsor jarang….”

(yah mungkin itulah yang membuat bintang tenis legendaris perlu turun gunung untuk memberi contoh bagi yang muda-muda tapi melempem itu. Soalnya sebagian besar yang dicari bukan prestasi dulu….tapi duitnya ada atau nggak. Padahal Yayuk Basuki khan sudah memberi contoh…jika berprestasi maka duitnya khan mengalir juga…. anak-anak jaman sekarang memang berfikirnya udah terbalik-balik dah….)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: