Pajak Markus Gayus Tambunan

Seminggu terakhir, Indonesia sekali lagi dikejutkan dengan kasus korupsi dan kali ini korupsi itu terjadi pada lingkungan pajak yakni dengan terkuaknya kasus Markus (Makelar Kasus) yang dilakukan Gayus Tambunan, seorang PNS di lingkungan Dirjen Pajak. Yang menghebohkan adalah kenyataan bahwa si Gayus itu termasuk pegawai bukan berpangkat tinggi karena golongannya baru III/a dan bahkan usianya pun masih muda yakni 30 tahun….sementara dia sudah memiliki rekening sebesar 25 milyar ples sebuah rumah mewah seharga 3 milyar….Uedaan….enake dadi pegawai pajak bisa nilep duwit sedemikian gedhe padahal masih muda dan pegawai ndek-ndekan. Lalu gimana dengan pegawai yang bangkotan…berapa duwet yang bisa mereka tilep….?! Demikianlah mungkin yang ada dibenak para manusia-manusia yang kemudian memunculkan gerakan 1 juta tolak bayar pajak di facebook sebagai bentuk protes sosial terhadap maraknya penggelapan pajak yang dilakukan aparat pemerintah.

Sebenarnya, terkuaknya kasus ini bermula saat mantan Kabareskrim Susno Duadji bernyanyi tentang adanya markus yang melibatkan dua petinggi POLRI. Dan seperti biasa, alih-alih menyelidiki apa yang diucapkan, Polisi malah buru-buru ples ribut-ribut menangkap Susno dengan tuduhan pencemaran nama baik !! Hanya saja, setelah staf khusus Presiden terkait dengan Pemberantasan Mafia Hukum, Deny Indrajaya, meminta Kapolri untuk menunda kasus tersebut, untuk lebih fokus pada pengusutan terhadap apa yang dilontarkan Susno. Dan tentu saja terlambat karena Gayus pun buru-buru ngacir ke negeri surganya para koruptor, Singapura. Hanya saja tak tau caranya bagaimana, tiba-tiba si Gayus menyerahkan diri ke Jakarta setelah dibujuk sama Deny Indrajaya (ini baru namanya staf Presiden yang hebat….alias sibuk beneran dan tidak anya sekedar sibuk ngathok…). Na…dari sini ada beberapa hal yang patut kita renungkan terkait dengan kasus Gayus Tambunan…..diantaranya…..

1. Penggelapan Pajak. Banyak yang mengatakan bahwa negeri ini akan makmur jika seluruh warganya tanpa terkecuali taat membayar pajak. Dan juga banyak yang menyatakan bahwa banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang rajin ngemplang pajak, utamanya melalui laporan keuangan fiktif dengan bekerjasama aparat pajak guna memangkas jumlah pajak yang harus dibayarkan. Kasus Gayus ini merupakan pucak gunung es dari bukti-bukti keberadaan makelar kasus pajak. Dan yang bikin penasaran adalah kenyataan bahwa si Gayus itu dianggap bukanlah pelaku utama sehingga yang menarik bukan jumlah uangnya yang mencapai 25 milyar, tetapi pengakuan-pengakuan Gayus sebagai saksi kasus-kasus lain terkait penggelapan pajak (tentu saja dengan jumlah yang lebih besar) lebih banyak ditunggu banyak pihak. Soalnya kalao pegawai golongan III/a saja bisa seperti itu….bagaimana dengan pegawai pajak golongan III/b, III/c…dst….Juga para komandan pucuk di jajaran Dirjen Pajak….?!

2. Polisi lebih Militer daripada Tentara. Kasus penangkapan atau lebih tepatnya pemanggilan Susno karena pencemaran nama baik seolah membuktikan bahwa Polisi masih berbau militer nan anti kritik. Untung saja yang diperkarakan seorang Susno, yang seorang Jendral Polisi, kalau orang biasa bagaimana….?! Yang jelas dengan adanya peristiwa itu masyarakat makin berhati-hati jika ingin bicara dengan Polisi…karena kalo melaporkan sesuatu bisa-bisa malah ditangkap sendiri. Dan saya yakin banyak orang di republik ini yang enggan melaporkan hal-hal seperti itu gara-gara sikap-sikap militeristik yang maen tangkap tanpa menghormati apa yang diungkapkan sang pelapor. Saya yakin semua institusi dan alat-alat pemerintah rata-rata kelakuannya mirip-mirip dengan hal itu.

3. Mafia Hukum Bertebaran. Sebuah kenyataan mengejutkan yang terungkap adalah Gayus Tambunan itu sudah dua kali diadili karena kasus money loundry…dan dua-duanya di vonis bebas…!! Dan bahkan pelariannya ke Singapura itu begitu mulus hingga menimbulkan banyak kecurigaan adanya kong kalikong diantara aparat hukum terkait dengan kasus si Gayus. Bahkan kepulangannya pun yang begitu mudah ples cepat seperti mengindikasikan adanya grand design terhadap pelarian si Gayus. Jadi…apa yang terjadi dibalik peristiwa itu….?! Mengapa koruptor teri seperti Gayus kabur begitu mudah ditangkap, sementara saat koruptor kakap yang sama-sama kabur ke Singapura (konon ada 17 orang disana) koq sampai sekarang gak pernah ketangkep…?! Betulkah hal itu terkait dengan mafia hukum dan peradilan yang marak di negeri ini….?!

4. Reformasi atau Revolusi Perpajakan….?! Sebenarnya reformasi perpajakan suda dilakukan, hanya saja kalau aparat yang melaksanakan ita-itu saja ya….pasti hasilnya yabegita begitu saja. Oleh karena itu, dalam sebuah perbincangan di TV salah satu pengawas pajak (Wahyu siapa gitu…) menyatakan bahwa masalah markus pajak bisa diselesaikan jika pemerinta bisa cut of generation birokrasi pajak alias seluruh pegawai pajak diberhentikan dan lalu diganti pegawai-pegawai yang baru. Masalahnya adalah bagaimana menghapus mitos-mitos pajak di kalangan aparat pajak sendiri, yang disebarkan dari generasi ke generasi aparat pajak yakni setelah ngurusin pajak perusahaan A dapat sekian persen….ngurusin pajaknya perusahaan B dapatnya sekian persen….yang hal itu menimbulkan keirian-keirian dan perilaku mencoba-coba hal yang sama pada generasi berikutnya semisal Gayus. Oleh karena itu, cerita-cerita antar generasi petugas pajak tentang dapat apa dan caranya bagaimana harus dihentikan dengan cara memecat seluruh pegawai pajak…!! Hanya saja, Pak Wahyu menyatakan biaya untuk melakukan itu sangat besar sehingga sulit dilakukan. Sebuah pernyataan menarik yang perlu dicoba mengingat kerugian negara akibat penggelapan pajak kalu dihitung-hitung pastilah akan lebih besar daripada biaya mem-PHK sekian ribu petugas pajak yang rata-rata pikirannya nakal itu.

5. Tolak Bayar Pajak….?! Kadang-kadang saya bingung juga dengan reaksi wong Indonesia. Masak gara-gara si Gayus malah beraeaksi untuk menolak bayar pajak. Koq sepertinya tiru-tiru gerakan artis-artis sinetron yang keberatan saat diminta bayar pajak. Padahal, pajak Indonesia itu termasuk yang teringan di dunia. Bandingkan dengan Inggris dan Spanyol yang mencapai lebih  40 % dari penghasilan. Saya koq jadinya kelingan sama para perusahaan yang suka ngemplang pajak. Dan jadinya yakin kalau mereka-mereka yang setuju tolak bayar pajak itu…kalau mereka sukses memiliki sebuah perusahaan pasti mereka akan ikut-ikutan ngemplang pajak…alias suka nyari untung sendiri….huh….!!

6. Bubarkan Akademi Bentukan Pemerintah. Kenyataan bahwa Gayus adalah lulusan STAN semakin menegaskan ketidak sukaan saya pada akademi-akademi bentukan pemerintah. Gayus buktinya. Kemampuannya yang canggih di bidang akuntansi pemerintah bukan dipakai untuk memperbaiki kinerja pemerintah tetapi malah dipakai untuk mengobok-obok celah-celah hukum instansi pemerintah. Dan saya yakin ‘ketrampilannya’ itu banyak diwarisi oleh para seniornya di STAN atau kalau tidak malah diajarkan di akademinya sekalian. Pepatah Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari, pasti mengandung filosofi tinggi hingga bisa jadi sak STAN berperilaku seperti itu. Mangkanya saya lebih setuju jika para pemuda-pemuda itu dididik di bangku universitas yang lebih independen. Pergaulan yang ada di universitas, sedikit banyak penuh dengan orang-orang anti pemerintah. Bukan nantinya untuk menjadi seorang pemberontak tetapi minimal dalam jiwa-jiwa muda itu akan muncul sikap kritis terhadap program-program pemerintah hingga kalaupun mereka nantinya bekerja di instansi pemerintah masih ada jiwa-jiwa idealisme yang ada di dada mereka. Sementara para lulusan STAN….?! Jelas-jelas mereka sejak awal belajar tentang seluk beluk pemerintah alias belum-belum mereka sudah pro pemerintah….padahal kebanyakan aparat pemerinta itu bobrok….ya….sudah saat bekerja yo melu-melu…..Pembubaran itu sekaligus meng-cut off juga ‘cerita-cerita manis’ para lulusan saat menjadi petugas pajak. Kalo masalah keahlian akuntansi sih…universitas seluruh Indonesia akan siap menyediakannya. Ingat pengetahuan dan ketrampilan bisa dipelajari….tapi sikap-sikap yang menjadi kebiasaan apalagi yang sudah membudaya memang perlu cara-cara ekstrim buat menghilangkannya….

7. Presiden Yang Jujur. Terkait dengan jumlah korupsi yang mencapai 25 milyar….Indonesia rasanya patut berbangga karena memiliki seorang presiden yang jujur. Buktinya kekayaan Presiden SBY hanya mencapai 7 milyar….sementara kekayaan seorang penilep pajak muda seperti Gayus Tambunan mencapai 28 milyar….Terlepas dari segala kelemahan yang dimiliki SBY, bukankah kekayaannya itu menunjukkan bahwa SBY merupakan sosok yang jujur semenjak muda….?! Bandingkan juga dengan kekayaan para mantan jendral lain di negeri ini yang rata-rata kekayaannya mencapai puluan milyar….?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: