Tentang Sesuatu yang Mubadzir…..

Sekarang bukan lagi jamannya ”Mangan gak mangan sing penting kumpul” tapi mungkin lebih baik “Kumpul gak Kumpul Sing Penting Mangan ….”
Nasehate Wong Jowo Milenium

Yang namanya cobaan itu seperti para Kyai bilang tidak hanya di jaman susah….saat kita sedang miskin, gak punya duit saja….Bahkan saat kita lagi punya duit kadang-kadang kita terperosok pada perbuatan yang sia-sia….itu masih mending kadang malah terjebak dalam tindakan penuh dosa…..Tapi kayaknya itu terlalu jauh dari tema tulisanku kali ini…..yang hanya ingin mencari kesamaan antara sebuah benda yang bernama Microwave Oven dengan adekku yang bernama populer Mr. Salimin….yang kemudian saya jadikan inisial dari Blog gelapku ini….. Walau bagi dia, nama Salimin itu terasa lebih sebagai olok-olok or julukan alias boso Jowone diarani padanan….. tapi bagiku julukan itu, seperti halnya julukanku laen padanya di masa kecil yakni sebagai Godotun Wadijatun, lebih merupakan perwujudan cintaku sebagai kakak pada dirinya yang tiada batas…..

Tulisan ini kuawali saat bulan Februari kemaren secara iseng aku beli sebuah Microwave Oven buat istriku tercinta di DP Mall Semarang…..Walau beli tapi prosesnya sih mirip model-model undian (atau tipuan atau trik pemasaran….?!) dimana harga barang tersebut yang sekitar 5 jutaan karena katanya dapat undian maka boleh aku bawa pulang dengan harga sekitar 1950 rebu saja…..Terus terang aku beli bukan karena harga diskonnya yang gila semata melainkan karena bentuk barangnya yang menurutku dan istri (yang waktu itu ikut juga) cukup menarik….dan memang sejak lama menjadi idam-idaman istri saya…. Hanya sayang karena memang lagi punya duit agak banyakan atau karena faktor salesnya yang montok and bahenol…..aku menjadi kurang teliti dalam membeli…..hingga saat barang itu kubuka di rumah ternyata watt-nya tidak seperti dikatain tuh sales (sama dengan setrika listrik) melainkan sebesar 800 watt…..padahal kontrakan saya saat ini hanya punya listrik sebesar 450 watt….atau dengan kata laen saya tidak akan pernah bisa memakai microwave oven itu……atau yang lebih ekstrim saya terancam sebagai manusia yang mubadzir…….

Tentu saja tidak akan pernah ada orang yang mau sebagai manusia mubadzir……hingga dengan berbekal prinsip itu saya berupaya menjual kembali microwave oven tersebut….mula-mula ke temen-temen deket saya yang punya rumah berlistrik gedhe…. Hanya saja, bukan respon positif yang saya terima melainkan banyak yang malah mengolok-olok saya sebagai orang yang kapusan atau tergoda bujuk rayu sales cantik (menurut saya sih sayanya tergoda dengan bentuk barangnya yang bagus, kelihatan berguna bagi istri walau saya tetep alpa karena lagi banyak duit saja…..). Hingga hampir putus asa rasanya waktu itu buat ‘ngilangin’ tuh barang dari kontrakan saya….bahkan hampir-hampir saja barang mubadzir itu saya tukarkan dengan sejumlah uang di pegadaian tanpa berniat untuk mengambilnya sama sekali…..

Saat hampir putus asa, tiba-tiba ada ibu-ibu temen sekantor saya yang tertarik dengan microwave itu….memuji-muji sebagai sebuah barang bagus, berguna, cukup mewah dengan harga yang cukup murah lagi….. Saat kuceritakan niat saya buat menjualnya…. eee…dianya malah minta agar barangnya di pajang di ruangannya sekaligus berjanji buat menjualkannya…..dengan harapan dapat ditawarkan pada temen-temen ibu-ibu laen……Sebuah tawaran menarik yang langsung tak setujui……Prinsip pertama bagi saya adalah mengeluarkan microwave itu secepatnya dari rumah saya…..karena saat melihat barang itu, saya pastinya menjadi gelo dengan kealpaan saya saat membelinya…..Sedang prinsip kedua adalah jika barang itu laku maka otomatis akan menghindarkan diri saya dari sifat mubadzir tadi….Dengan kata lain saya lebih rela kehilangan barang berharga tersebut asalkan berguna sesuai fungsinya daripada sekedar jadi pajangan di rumahku…. Dan dengan prinsip itu pula saya kemudian rela barang itu dijual dengan sistem nyicil ples ditawar harganya-pun boleh……

Hubungannya dengan Mr. Salimin alias my brother….?! Begini critanya, Mr. Salimin itu adalah adek ragilku yang sangat kusayangi mengingat sejak kecil (umur 5 tahun) dia sudah harus berpisah dengan ibunya yang jadi TKW di Arab Saudi…..Dengan latar belakang itulah saya begitu sayang padanya ples selalu melindunginya mulai kecil sampai lulus kuliah dari Fakultas Perikanan di sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta (ikut-ikutan Mas Anang ah…..). Salimin, adek saya itu, menurut saya termasuk orang yang pintar….bahkan dia bisa lulus kuliah dengan IP 3,21 tanpa banyak melakukan kuliah perbaikan….. (kalau saya sih saat kuliah paling terkenal sebagai mahasiswa mbaleni….walau motivasinya gak sekedar perbaikan nilai saja…. Melainkan juga nyari jodoh dengan memperbanyak kenalan sama adek angkatan…..) Bahkan sejak semester 8 pun dia sudah hampir gak pernah ngambil mata kuliah lagi….Sayangnya gak tau kenapa dia seperti mengalami masalah motivasi hingga kuliahnya tersebut menjadi berlarut-larut bahkan hingga hampir 8 tahun (wisuda Mei 2006)…..Skripsinya pun kelar setelah saya dengan keras ngoprak-ngoprak ples separo mbikinin biar cepet selesai…..

Masalah lemahnya motivasi itu ternyata berlanjut pasca do’i lulus kuliah…..terbukti saat saya biarkan dia ngekos lagi selama 6 bulan…..bukannya sibuk nyari kerjaan, dianya malah sibuk ngebantuin temen-temennya bikin skripsi….Terhitung hanya 3 kali saja dia ikut wawancara kerja selama 6 bulan itu…..Dengan kelakuannya seperti itu, saya mengambil jalan tegas buat menghentikan pasokan sangu ples uang kontrakan kos-nya…..mengingat dia sudah besar, sarjana lagi…..dengan harapan dia mau nyari duit sendiri buat mbayar tuh kos…..but alih-alih nyari kerja, dianya malah memutuskan untuk cabut dari Yogya dan memilih pulang ke Kediri….sesuatu yang sangat saya sesalkan mengingat di Kediri tinggal ada ibu tiri (ayah saya sudah meninggal sekitar 7 tahunan lalu) yang notabene hanya mengandalkan hidup dari pensiunan janda Bapak yang cuman sekitar 600 ribuan saja…..Bener-bener tindakan tak dewasa yang saya sesali sampai sekarang……

Di Kediri, kelakuan nyantainya itu ternyata belum berubah….Dengan alasan boss-nya sulit, tercatat dia dua kali keluar dari kerja kecil-kecilannya dan memilih nganggur di rumah….Sempat ngalamar and wawancara juga di sebuah perusahaan perikanan di Surabaya walau saat sudah diterima dia memutuskan buat membatalkannya karena lokasi kerjanya merupakan sebuah tambak terpencil di ujung timur Propinsi Jawa Timur… Hal itu diperparah dengan perjalanan safarinya ke-Jakarta, Sumedang maupun Tegal atas biaya dariku yang katanya buat tes Pegawai…walau menurut saya berujung pada reuni dengan temen-temen lamanya di Yogya yang memang Berhati Nyaman itu…..

Sampai kemudian, di bulan Maret 2008, setelah wawancara di Surabaya dan kemudian dia diterima sebagai Kuli Kontrak (maksudnya ikut program pemerintah sebagai tenaga kontrak penyuluh perikanan) dengan lokasi kerja di Kabupaten Kapuas di Kalimantan Tengah…..Sekali lagi disini para kakak-kakaknya tercinta paling sibuk ngujuk-ngujuki agar dia mau nglakoni kerja rodi itu….Seperti biasa saya sendiri ikut membantu total terutama dengan nyangoni dia ke Kalimantan buat modal awal….walau disini saya tetap menekankan itu sebagai sebuah hutang…..bukan apa-apa, saya cuma ingin dia lebih bertanggung jawab pada hidupnya…..karena selama ini saya merasa terlalu memanjakannya hingga dia menjadi pribadi yang lembek….so….sebagai penebus dosa, saya akan mendidiknya dengan keras sampai dia bisa mandiri…..

Persamaan microwave dan adek saya…?! Jelas microwave itu adalah barang yang berguna….hanya saja saya tidak mampu memanfaatkan fungsinya…..hingga saya memutuskan melepasnya ke orang lain yang lebih bisa memanfaatkannya…..Demikian juga dengan adek saya. Bagi saya dia adalah seorang manusia yang pintar dan potensial. Hanya saja potensinya itu tidak akan pernah keluar selama dia ada di dekat saya, kakak tersayangnya yang selalu melindunginya setiap saat……Harapan saya dengan pergi ke Kalimantan nan jauh dari saya…..Salimin bisa lebih mengoptimalkan potensinya…. bisa lebih berguna bagi orang lain….dan yang lebih penting, tidak menjadi manusia yang mubadzir……

Satu Balasan ke Tentang Sesuatu yang Mubadzir…..

  1. salimin mengatakan:

    Akhir minggu kemaren, adekku si Salimin pulang dari Kalimantan buat lebaran….senengnya ketemu lagi dengan adek tercinta…but yang lebih seneng adalah Dianya merasa krasan hidup di Kalimantan…Disana Dia merasa menjadi manusia yang dibutuhkan oleh orang banyak….Ah….bahagianya aku karena ternyata keputusanku buat ‘mengasingkan’ dia disana tepat…dalam arti Mr. Salimin bukan lagi menjadi manusia yang mubadzir….Lalu bagaimana dengan cerita my Microwave oven….?! Masih seperti dulu….alias sampai sekarang belum ada yang mo beli….alias masih mubadzir juga…..Ya sudah kalo gak ada yang beli ya nanti tak pakek sendiri…setelah rumah baruku sudah tak tempati tentunya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: